Iskandar Samad

Home » Writing Articles

Category Archives: Writing Articles

Skrip Filem Pendidikan

KANGURU

Layar Pertama

Ahmad Darwis  berusia sekitar 12 tahun dan duduk di kelas enam SD, ia  mendapatkan sebuah majalah berbahasa Inggris dari seorang expatriate Australian Red Cross, Bill David. Sekolah SD tempat Ahmad menuntut ilmu hancur dihempas tsunami. Bill David  sedang berada di lokasi untuk mengawasi pembangunan sekolah bantuan Australian Red Cross.  Suatu hari ia datang lebih awal untuk memastikan pembangunan pondasi bangunan gedung sekolah berlantai dua benar-benar sesuai prosedur. Sambil menunggu datang para pekerja, Bill David membuka tas dan mengeluarkan majalah dan membacanya.

Di lokasi hanya ada Bill David, Supir dan Assistant sekaligus penterjemah. Orang ke empat yang ada di lokasi adalah Ahmad Darwis, ia datang untuk melihat sekolahnya yang sedang dalam proses pembangunan.

Pasca musibah tsunami di Aceh, anak-anak Aceh mulai familiar dengan beberapa patah kata bahasa Inggris dan Ahmad Darwis termasuk anak-anak yang dapat menyebutkan beberapa kalimat dalam bahasa Inggris. Ia dekati Bill David untuk mempraktekan satu kalimat “Good Morning Sir.” Harapan Ahmad, penerjemah akan membantu menghidupkan komunikasi antara dirinya dengan Bill David. Bill membalas sapaan Ahmad dan melanjutkan dengan beberapa kalimat. Ahmad hanya bisa terpaku dengan mulut menganga. Sementara penerjemah sangat sibuk dengan percakapan di Hand Phonenya  sambil terus mengawasi Ahmad dan Bill.  Karena percakapan macet dan pekerja mulai berdatangan, Bill menyerahkan majalah bacaannya kepada Ahmad. Tentu saja Ahmad sangat girang dengan pemberian tersebut dan berkali-kali berucap “thank you” sambil menunduk-nunduk.  kemudian  Ahmad Langsung pergi membawa majalah.

Layar Kedua.

Di rumah yang sangat sederhana, Ahmad membolak balik lembaran majalah. Ia tinggal bersama keluarga pamannya. Ayah, ibu dan kedua saudara kandung telah pergi bersama tsunami. Diantara gambar-gambar yang ada dalam majalah sangat menarik hati Ahmad adalah gambar sekumpulan Kanguru. Di bawah gambar ada beberapa baris kalimat menjelaskan tentang Kanguru dan beberapa halaman sesungguhnya artikel tentang Kanguru. Berdetam-detam dalam dada Ahmad rasa ingin tahu penjelasan di bawah gambar, ia tanya sama istri pamannya. Jawaban hanya menggeleng kepala. Ia tunggu pamannya datang dan segera menjenyerahkan majalah tersebut sambil menceritak bagaimana mendapatkan majalah tersebut. Paman Ahmad membolak balik majalah dan kemudia fokus pada gambar Kanguru dan membacakan berbera kalimat dengan keras. “Paman bisa baca tapi tidak tahu arti, gambar ini adalah gambar Kanguru adanya cuma di Australia. “

Rasa penasaran Ahmad terus bertambah, dia ingin tahu lebih tentang Kanguru. Dibawanya majalah ke warung kopi dekat rumahnya. Semua orang yang ada di warung kopi baik yang dia kenal atau tidak,  ia sodorkan majalah. Semua menggelengkan kepala, bahkan ada yang menimpali dengan ekpresi-ekpresi kocak.  Ahmad pulang membawa kecewa.

Layar ketiga

 

Keesokan hari, Ahmad membawa majalah ke sekolah tunpangan mereka belajar dan masuk pun sore hari.  Ia bungkus baik-baik dan masukan dalam tas, sengaja ia sembunyikan dari kawan-kawanya, karena ia yakin kawan-kawan tidak bisa mengatasi masalah yang sedang ia hadapi, malah bisa membuat majalah sobek. Saat jam istirahat, Ahmad masuk ke ruang guru, ia tunjukan majalah kepada salah seorang guru yang dia rasakan  agak dekat denganya dan minta diterjemahkan tulisan di bawah gambar. Ibu guru memperhatikan gambar dan tulisan di bawah gambar dan menggeleng kepala sambil berkata “ Ibu nggak ngerti sempurna, coba tanya sama Pak Ismail.” Sambil menyerahkan majalah ke bapak guru yang duduk di sampingnya. Pak Ismail juga mengeleng kepala dan terus majalah ber-estafet sampai semua guru yang ada dalam ruangan memegang dan menggeleng kepala.

Layar Keempat

Pulang sekolah, Ahmad menuju lokasi ia berjumpa Bill David, ia yakin Bill selalu ditemani seseorang yang bisa bahasa Aceh atau bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Ia ingat abang yang sibuk menelpon saat ia dapat majalah, pasti bisa membantunya. Sesampai di lokasi kedaan sudah sepi, pekerja sudah pulang semua, mata hari hampir tenggelam. Ahmad berjalan kaki untuk pulang ( background sunset, karena lokasi sekolah yang sedang dibangun tidak jauh dari laut).

Layar kelima

Sesampai Ahmad di rumah, sudah selesai azan magrib. Pamannya marah besar karena dianggap Ahmad sudah tidak disiplin jam pulang ke rumah. (marah dalam bahasa Aceh kental logat Aceh Besar pesisir).

Layar keenam

Ahmad mendekati Istri Pamannya yang sedang mencuci piring di dapur pagi hari;

“Makcek…, saya harus masuk cepat hari ini, karena jam sepuluh ada latihan untuk menghadapi ujian, makan siangnya Makcek bungkus saja, biar nanti saya makan di sekolah, dan jam sekolah masih seperti biasa, masuk jam dua pulang jam enam sore. Saya Janji tak akan pulang telat lagi” Istri Paman memandang wajah Ahmad penuh curiga.

“Kamu nggak bohong Ahmad?”

“Nggaklah Makcek. Biar saya berhasil nanti Makcek.” Jawab Ahmad sambil menundukan pandangannya.

“kalau untuk belajar, pulang malam pun nggak apa-apa, tapi jangan keluyuran, tahulah kalau paman kau marah.” Balas Istri Pamannya sambil menyiapkan sebungkus makan siang.

 

 

Layar ketujuh

Ahmad sudah berada di lokasi pembangunan sekolah dengan seragam sekolahnya. Bill dan assistenya sudah juga sudah berada di lokasi juga para pekerja bangunan.

“Bang tolong terjemahkan apa maksud yang dibawah gambar ini?  Pinta Ahmad pada Asisten Bill.

“Nama saya Fikri dan yang memberi majalah ini untukmu namanya Pak Bill David orang Australia.” Fikri  memperkenalkan diri dan line managernya.

Nama saya Ahmad Darwis, saya sekolah di sini sebelum tsunami, sekarang menumpang di sekolah lain, kami masuk jam dua siang”

“Fikri…what problem with that kid? Tanya Bill yang berdiri tidak jauh dari Ahmad dan Fikri.

“He asks me to translate some sentences in the magazine that you gave it for him.”

“Oh my God…, somebody paid you for new task…?! Ok…, go on, I am just kidding. Tell him, I will give him more when he understands English.” Balas Bill.

“Pak Bill bilang; dia akan kasih lebih banyak lagi kalau kamu sudah bisa bahasa Inggris.” Jelas Fikri. Ahmad tersenyum gembira penuh harap.  Fikri menerjemahkan kalimat yang ada dibawah gambar Kanguru. Ahmad terlihat sangat puas sekaligus penasaran dengan kalimat-kalimat lain yang lebih panjang.

“Dalam tiga halaman ini, semuanya membahas tentang Kanguru, tapi tidak mungkin saya menerjemahkan semua, nanti Pak Bill marah Karena saya sibuk dengan bukan pekerjaan saya. Besok kamu datang lagi ke sini,  saya akan kasih kamus bahasa Inggris dan buku pelajaran percakapan dalam bahasa Inggris, nanti kamu bisa belajar sendiri.”

Ahmad menyalami Fikri dan menganggu kepala ke arah Bill David.

Layar kedelapan

Siang malam, pagi sore Ahmad sibuk menghafal kamus, membolak balik buku percakapan bahasa Inggris, dia berbicara dengan cermin, pohon dan melakukan monolog. Pamannya sempat memanggil dukun untuk menangani Ahmad. Orang sekitar mengklaim Ahmad sudah mereng (Gila). Kalau Ahmad keluar rumah dengan kamus di tangan, orang orang mengisyarakat dengan menunjuk ke kepala dengan posisi jari mereng. Saat masuk SMP dan SMA Ahmad sangat antusias dengan pelajaran bahasa Inggris, ia duduk di bangku yang langsung berhadapan dengan guru.

 

 

 

Layar kesembilan

Tujuh tahun kemudian

 

Ahmad sudah kuliah semester pertama  Universitas Syiah Kuala, fakultas Sospol. Ia sempat tertunda kuliah satu tahun karena tidak punya uang. Untuk meraih cita-cita melanjutkan belajar di bangku kuliah, Ahmad bekerja di sebuah coffee (warung kopi modern di Banda Aceh) dan tetap bekerja shift malam untuk menutupi kebutuhan hidup dan kuliahnya. Ahmad termasuk pegawai paforit karena dapat berbahasa Inggris dengan baik. Banyak orang asing datang minum kopi di situ karena mudah dalam berkomunikasi. Empunya warung kopi membayar lebih untuk Ahmad dibanding kawan-kawan seprofesi di warung tersebut.

Layar Kesepuluh

Di Gedung ACC Dayan Dawoed diadakan pertemuan yang banyak dihadiri oleh para ahli dari luar negeri. Ahmad terlibat sebagai panitia dalam acara tersebut. Dan Bill David termasuk tamu undangan VIP. Pastinya Bill sudah lupa pada Ahmad tapi Ahmad masih sangat kental dalam ingatan sosok Bill.

“Mr. Bill David… do you remember me?” Sapa Ahmad saat Bill masuk pintu gedung Acc.

“I was in Aceh but I don’t really remember, where we were together?” balas Bill.

“Please wait a minute.” Ahmad berlari kencang mengambil tas di meja tugasnya. Mengeluarkan sebuah majalah yang sudah lusuh dan menyerahkan kepada Bill. “Seven years ago, you gave it for me as gift and you promised me to give more when I able to understand English. Now I am here, and we do not need a translator.”

“Oh my God… it has been long time ago.” Bill menepuk-nepuk bahu Ahmad. “give me your email address, phone number, mail address and provide me any information connected with your education background. Tonight I want to drink coffee with you.” Mereka berbincang tentang banyak hal dan melanjutkannya di sebuah warung kopi di malam hari.

 

Layar Kesebelas

Bill David pulang ke Australia menghubungi kawan-kawannya, lembaga-lembaga sosial mencari beasiswa agar Ahmad Darwis bisa kuliah di Australia, termasuk mengurus proses masuk kuliah, dan mengirim tiket untuk Ahmad.

 

Layar kedua belas.

Ahmad naik pesawat, turun di Airport Australia (Canberra/Sydney/ Melbourne). Masuk pintu gerbang Universitas (yang terkenal di Australia) duduk dalam ruang bersama mahasiswa kulit putih lain sambil mendengar kuliah dari professor. Berbicara dalam kelompok diskusi. Hadir dalam acara kelulusan dan menggunakan toga kelulusan SI.  Dalam perpustakaan, berjalan dengan pakaian dingin sepanjang jalan menuju kuliah.  Berdiskusi dengan seorang professor  dan diakhiri dengan sidang mempertahankan desertasi magisternya.  (fase-fase berjalan cepat tanpa harus ada dialog)

Layar ketiga belas

Ahmad bekerja sebagai wartawan pada sebuah majalah di Australia. Ia masuk dalam gedung besar dan megah di tengah kota. Duduk menghadap meja dan sebuah desk top di atas meja  memberi kesan sedang bekerja dalam sebuah ruang editor. Keluar masuk kantor-kantor atau gedung-gedung mewah dengan pakaian rapi (berjas dan dasi). Di lain waktu Ahmad naik mobil bagus  dan menyetir sendiri sepanjang jalan perkampungan di Autralia. (kawasan cantik yang sering jadi icon wisata Australia.) (fase-fase berjalan cepat tanpa harus ada dialog)

Layar Keempat belas.

Senja Hari, (menjelang sunset)  pingir pantai, pada sebuah warung kopi sederhana yang tak lain adalah  kampung asal Ahmad, ia duduk membaca sebuah majalah bebahasa Inggris dan sesekali memandang ke laut. Tidak jauh dari Ahmad duduk, sebuah kapal boat besar hadiah Ahmad untuk Pamannya, dan sang Paman sedang memberikan pengarahan kepada krue sebelum bertolak untuk menangkap ikan. Tanpa Ahmad sadari, seorang anak wanita berusia sekitar sebelas tahun mengintip lembaran majalah dari belakangnya. Wajah anak perempuan itu lusuh dan terkesan tak terurus. Ahmad baru sadar di belakangnya ada seorang anak perempuan saat anak itu batuk. Ahmad menoleh ke belakang, dan anak perempuan yang lusuh tidak memperdulikan batuknya dan juga tidak melihat sekejap pun ke wajah Ahmad, dia tetap fokus pada majalah di tangan Ahmad. Serta merta Ahmad bangun dan menyerahkan majalah ke anak perempuan dan meminta seseorang duduk tidak jauh darinya untuk memotret dirinya anak perempuan memegang majalah dengan kamera HP.

Layar ke Lima belas

Dua Puluh Tahun Kemudian

Sebuah rumah besar berhalaman luas, terlihat sangat megah. Di depannya diparkir sebuah mobil mewah. Seorang wanita (berpakaia rapi dan resmi semacam blazer/jas khusus wanita dan tetap dengan jilbab) masuk pagar rumah setelah melewati pos satpam kemudian mengetuk pintu, pintu dibuka oleh seorang pembantu rumah tangga berpakaian rapi seperti seorang perawat.  Pembantu mendapingin wanita dan mengetuk pintu sebuah kamar di lantai bawah. Terdengar suara dari dalam “masuk,” dan wanita memberi salam dan masuk sambil tersenyum ramah.  Ahmad Darwis mempersilakan tamunya untuk duduk, tapi wanita terpaku matanya pada sabuah foto yang tergantung dalam ruang yang tertata rapi dengan beberapa rak penuh susunan buku.  Ahmad Darwis memperhatikan tamu wanita dan ia pun ikut memperhatikan foto yang ia gantung dalam ruang kerjanya, lalu mereka tersenyum sambil bersalaman.

Foto yang manarik perhatian tamu wanita adalah foto Ahmad Darwis dengan seorang anak perempuan yang memegang majalah.

Ahmad Darwis sudah tua dengan jenggot, kumis dan rambutnya sudah putih serentak. Memakain kaca mata yang biasa dipakai oleh orang berumur lanjut.

Disisi lain dari ruang tersebut tergantung pula sebuah foto sekumpulan kanguru.

 

The end

Note:

  1. Film berdurasi lima sampai lima belas menit. Bisa dibuat film dalam bentuk besuara dengan memperdengarkan dialog atau  tanpa suara.
  2. Layar ending (layar ke lima belas) bisa diadjust sesuai dengan pesan sponsor.
  3.  Kalau ada hal-hal lain perlu diadjust karena pertimbangan fasilitas shooting bisa kita diskusikan.
  4. Lokasi shooting Pesisir Aceh dan Australia
  5. Message dari filem;
  • Memberi inspirasi dan semangat anak-anak untuk belajar bahasa Inggris dan bercita-cita tinggi.
  • Mendorong setiap pribadi dewasa untuk memperhatikan pendidikan anggota keluarga dekatnya, terutama anak-anak yatim piatu dan anak-anak dari keluarga tak mampu.
  • Mengilhami masyarakat untuk mendukung kegiatan yang mencerdaskan kehidupan generasi muda.
  • Peran bantuan asing dalam proses pendidikan di Aceh.

 

Banda Aceh 19 January 2011

 

Teuku Azhar Ibrahim: Pengarang Skrip Filem Pendidikan berjudul Kanguru

 

 

 

assignments

it is impossible to design a truly authentic test

L1interfer L2

The Impact of Technology on Literacy Practices

The Analysis of Organizational Structure cover

The Impact of Technology on Literacy Practices

The Impact of Technology on Literacy Practices
Written by Siti Sarah Fitriani, S.Pd, MA
I.          Introduction
The development of technology is increasing from day to day. Nowadays, our lives in 21st century could be said as a digitally infused environment (Martin, 2006, p.3) in which every single field of life is using technology facilities. For example, the use of telephone and cellular phone could be found at home, workplace, and in the community from a rural to urban area. Moreover, social activities where literacy is involved could be facilitated by technology, for example e-mail, online discussion, short message service using cellular phone, mailing lists, online journals, or digital video conference (Martin, 2006, p.3; and Gilster, 2006, p.42). People could communicate and interact with each other to form social activity in an online world. In an occasion, for instance, they could speak or write to each other without seeing each other, at the same time, they could get response directly. In another occasion, they could see each other by using web camera while they are not in the same room. It is like an illusion world for the commoners, but it is a real thing happens. (more…)

Motivation in Learning English as Foreign Language

Motivation in Learning English as Foreign Language
I.          Introduction
English is known as an international language which is widely spread around the world. People use English as a media of communication across countries and cultures. Since its use is increasing dramatically in each domain, the number of people who are literate in English is increasing as well. Educational body in each of non-English speaking countries which is responsible for the distribution of knowledge has made English as a core subject that must be taken by students. Indonesiais one of non-English speaking countries where the number of people who study English is increasing. The Indonesian has an obligation to study English in elementary school up to university level. Besides formal education, Indonesian people are increasing their knowledge of English by joining an English course in their area. They intend to study English in order to be able to compete with others whether in finding good job or increasing their knowledge in science and technology. To make it happens, they should have motivation to encourage themselves to study English.  Most of researchers such as Ellis (1994, p.508), Krashen (1995, pp.90-116), and Dornyei (1998, p.117) agree that motivation plays an important role for the successful of people learn English as second or foreign language. According to Dornyei (1994, p.275), the most familiar motivation was characterized into two categories: intrinsic and extrinsic motivation.  From these two types of motivation, it is argued that intrinsic motivation brings more effects for the successful of language learner in achieving the second or foreign language rather than extrinsic motivation. Therefore, people who intend to study English should have this motivation to encourage themselves to pursue the language.
This paper will firstly examine factors that motivate learners to study English as a second or a foreign language.  In this section, there will be an exploration of finding out type of motivation that affect learners to fulfill their goals, such as finding good job, or increasing their knowledge in various fields of study. In section two, there will be an explanation about the methodology of the research including participant(s), procedure and data analysis that are used in collecting and analyzing data of this research. In the last section, there will be a discussion regarding research findings. (more…)

Anak Guru Belajar di Negara Kangguru

Anak Guru Belajar
di Negeri Kangguru
ISKANDAR ASadalah dosen Program  studi Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Pria kelahiran Lang­sa, 25 Oktober 1978 ini adalah putra pertama dari Drs. A. Samad Hasan, MBA dan Sumia­ti. Sejak kecil Isk—panggilan kecil Iskandar—bercita-cita menjadi dosen. Sehingga ketika di SMP, ia mulai belajar Bahasa Inggris di tempat kursus orang tuanya yaitu Basic English Course (BEC) Langsa. Begitu juga seterusnya sampai ia tamat SMA di kota kelahirannya itu. (more…)

Armidale, Kota yang bersih

Armidale, Kota yang bersih

Oleh Iskandar Abdul Samad,
Dosen FKIP Unsyiah. Mahasiswa Doctoral University of New England (UNE), Melaporkan dari Australia

SEPTEMBER lalu ketika masih musim dingin, saya bersama keluarga berangkat dari Banda Aceh ke Kota Armidale, New South Wales, Australia. Banyak harapan saya dan istri dari studi yang kami jalani bersama di Universitas New England (UNE). (more…)

Opini: Bahasa Asing Mempromosikan Budaya Lokal

Opini

Bahasa Asing Mempromosikan Budaya Lokal

Oleh: Iskandar AS
Direktur Goodman Language Training, Banda Aceh, Indonesia
& Mahasiswa Doktoral University of New England (UNE), Armidale, Australia.

Budaya adalah identitas masyarakat suatu daerah. Begitu juga bahasa. Masyarakat di suatu tempat, dapat saja memperkenalkan budayanya kepada masyarakat daerah lain. Caranya, kuasailah bahasa asing. Dengan kemampuan berbahasa asing yang baik, akan sangat mudah bagi kita dalam mempromosikan budaya lokal yang ada di daerah kita.
Ulasan saya ini, meski bukan issue yang sedang hangat diperbincangkan di kalangan masyarakat Aceh saat ini, namun ulasan ini bermanfaat untuk mengingatkan kita betapa pentingnya mempelajari bahasa asing sebagai media untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya yang sangat unik yang kita miliki kepada khalayak banyak. (more…)

Apresiasi: Bahasa Daerah sebagai Identitas Budaya

Sun, Jul 17th 2011, 08:04

Apresiasi
Bahasa Aceh sebagai Identitas Budaya

Punahnya sebuah bahasa, khususnya bahasa daerah, menjadi hal serius yang perlu mendapatkan perhatian  semua pihak, baik  pemerintah maupun masyarakat luas. Dikhawatirkan bersamaan terjadinya proses kepunahan bahasa,  maka  kepunahan budaya pun akan tak terbendung, karena pada dasarnya bahasa melekat  pada budaya (Wei & Mei, 2009).  Oleh karenanya, upaya serius dalam menyelamatkan bahasa-bahasa daerah perlu dilakukan oleh semua pihak, baik pemerintah sebagai penguasa daerah, maupun orang tua sebagai penguasa di dalam keluarga.

Percaya atau tidak, itulah kondisi riil di daerah kita. Banyak orang yang kita temukan baik di jalan, pasar, kantor, labi-labi, dan tempat-tempat lainnya ketika seseorang bertanya dalam Bahasa Aceh, cenderung lawan bicaranya menjawabnya dalam Bahasa Indonesia, bahkan dengan gaya dan memakai istilah-istilah  seperti layaknya orang-orang di kota-kota besar. (more…)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.